Berita "Austin Cinta Indonesia" Terpilih Sebagai "Weekly Top Views"!!


KabarIndonesia


Baru pulang kerja, aku istirahat sementara suami bikin quesadillas (tortilla yang diisi chili, acar, dan keju..yummmmy..). Lalu kutemukan email dari Koran online Kabar Indonesia yang sebagian isinya aku copy dibawah ini. I'm so happy and I want to share it with ya'll my best friends. Thanks yah, teman-temanku yang baik budi ini telah rela meluangkan waktu buat baca artikel yang kutulis. Aku akan coba untuk lebih rajin lagi nulis. Kritik dan masukan-masukan kalian aku tunggu loh..!
Again, thanks and keep check our blog out.

Yth. Sdr. Maria Coleman

Dengan ini kami atas nama seluruh staf redaksi KabarIndonesia ingin mengucapkan selamat kepada Sdr. Maria, karena artikel anda berjudul “Austin Cinta Indonesia” telah terpilih sebagai artikel yang banyak dikunjungi oleh para pembaca KabarIndonesia.

Berdasarkan hasil statistik data para pengunjung ternyata artikel yang anda tulis banyak dibaca oleh para pengunjung, sehingga layak untuk dinobatkan sebagai “Weekly Top Views”. Ternyata artikel anda ini telah menjadi satu artikel yang luar biasa. Disenangi oleh banyak para pembaca KabarIndonesia.

Pengumuman “Weekly Top Views” ini telah kami tayangkan di halaman utama
http://www.kabarindonesia.com/. Redaksi KabarIndonesia juga telah membuatkan Blog khusus sebagai arsip untuk seluruh berita-berita yang telah menjadi Weekly Top View sepanjang tahun. Silahkan kunjungi: http://koran-kabarindonesia.blogspot.com/

Keberhasilan Sdr. Maria adalah keberhasilan kami juga sesuai dengan motto KabarIndonesia: Dari Kita untuk Kita – karena KabarIndonesia ini telah menjadi milik kita bersama.

Life Without Limbs

Sebelum memulai tulisan ini, aku ingin berterimakasih kepada Esther yang telah berkali-kali menyebut Nick dalam email-emailnya di mailing list Arisan kita. Esther ini bisa dibilang salah satu fans berat Nick. Terbukti dari rajinnya dia mengikuti seminar-seminar Nick setiap kali dia hadir di Surabaya.
Mulanya nama Nick ini begitu asing di telingaku. Lalu aku mulai surf the web dan menemukan fakta bahwa begitu kita ketik Nick Vujicic akan muncul bejibun website tentang dirinya. Makin tertarik aku setelah melihat salah satu videonya di YouTube.
Berikut ini juga aku sertakan 2 video klip buat kalian yang belum mengenal Nick Vujicic. Video pertama menampilkan keseharian Nick di rumahnya di Brisbane, Australia. Video kedua diambil dari salah satu seminar Nick.
Bila kalian ingin tahu lebih jauh tentang kiprah Nick, silakan klik link resminya ini http://www.lifewithoutlimbs.org/policy-privacy.php



Satu hal yang patut dicatat dari setiap seminar dimana Nick menjadi pembicara utama, adalah dia tidak pernah merasa canggung. Nick memiliki talenta untuk menguasai audiensnya. Dia bahkan sering membuat gelak tawa hadirin dan membuat lelucon dari keadaan dirinya yang 'tak lengkap' itu. Bahkan - ini seperti yang digambarkan Esther - banyak gadis yang seakan 'terbius' dan langsung menyerbu Nick selepas acara untuk sekedar memeluk, mencium, dan meminta autografnya. Nick sungguh seorang selebriti! Bedanya, selebriti yang satu ini selalu tampil tanpa apa adanya, tanpa polesan make up, dan dengan segala kekurangan fisiknya, jujur bertutur.
"Orang selalu berkata keadaan yang saya alami ini sebagai 'bad luck', suatu kecelakaan," kata Nick,"Tapi saya katakan disini, Tuhan tidak pernah membuat sesuatu tanpa rencana. No matter who you are, no matter what you're going thru, Gos is with you, He'll pull you through." Nick kemudian menambahkan,"There is not one suffering you go through and not see glory revealed. There will be some good, if you hang on."



Semoga kisah ini bisa menjadi inspirasi kita untuk tidak mudah patah semangat bila menghadapi persoalan hidup. Karena Tuhan telah merencanakan semuanya bagi kita. Tinggal kita diminta untuk berjuang, menjadi pribadi yang tabah dan ulet. Seperti Nick Vujinick dan Ben Underwood.
God bless you all!

Christmas Shoes...



When I was driving and listening to my favorite radio "Majic 95.5" that plays Christmas songs 24/7 non-stop since the day after thanksgiving, I heard this beautiful-but-sad song. Sung by Carlysle Bob, it brought me tears like river, and I had to drive real slow 'cause my eyesight became 10-10 hiks...
Once I heard the second part, it struck me like a hammer hit my chest. I remembered my deceased mom and even when I'm writing this my eyes are blurred with tears. I feel like I did not do much for her when she was still around us. I remember the troubles I made when I was a kid and mom was always the one who fixed them. I remember how she always look 'alright' even though I know -somehow- deep inside she was hurt and in so much pain.
Let us remember our mother and always bring them to our prayers. Happy Holiday!
(I uploaded "Christmas Shoes" in the song list on the side bar so you can also listen to it. Just click on the song title and it'll play for you. Enjoy!)

It was almost Christmas time
There I stood in another line
Trying to buy that last gift or two
I'm really in the Christmas mood
Standing right in front of me
Was a little boy waiting anxiously
Pacing around like little boys do
And in his hands he held
A pair of shoes

And his clothes were worn and old
He was dirty from head to toe
And when it came his time to pay
I couldn't believe what I heard him say

Sir I wanna buy these shoes for my Momma please
It's Christmas Eve and these shoes are just her size
Could you hurry Sir?
Daddy says there's not much time
You see, she's been sick for quite a while
And I know these shoes will make her smile
And I want her to look beautiful
If Momma meets Jesus, tonight.

They counted pennies for what seem like years
And cashier says son there's not enough here
He searches is pockets franticly
And he turned and he looked at me
And he said Momma made Christmas good at our house
Most years she just did without
Tell me Sir
What am I gonna do?
Some how I’ve got to buy her these Christmas shoes

So I layed the money down
I just had to help him out
And I'll never forget
The look on his face
When he said Momma's gonna look so great.

Sir I wanna buy these shoes, for my Momma please
It's Christmas Eve and these shoes are just her size
Could you hurry Sir?
Daddy says there's not much time
You see, she's been sick for quite a while
And I know these shoes will make her smile
And I want her to look beautiful,
If Momma meets Jesus tonight.

I knew I caught a glimpse of heavens love as he thanked me and ran out.
I know that God had sent that little boy to remind me
What Christmas is all about

Sir I wanna buy these shoes for my Momma please
It's Christmas Eve and these shoes are just her size
Could you hurry Sir?
Daddy says there's not much time
You see she's been sick for quite a while
And I know these shoes will make her smile
And I want her to look beautiful
If Momma meets Jesus tonight

I want her to look beautiful
If Momma meets Jesus tonight

Bocah Yang Melihat Dengan Suara


Bagi orang-orang yang belum mengenal baik Ben Underwood, mereka tidak akan bisa melihat ‘keistimewaan’ bocah 14 tahun dari Sacramento, California ini. Seperti layaknya remaja lainnya, dia lihai meluncur diatas skateboardnya, bersepeda, atau bermain sepak bola dan basket dengan teman-temannya. Satu yang membedakan adalah suara ‘klik-klik’ yang keluar dari mulutnya.
Ben baru berusia 2 tahun saat dokter menemukan kanker di kedua retina matanya. Setelah kemoterapi gagal, dokter terpaksa harus membuang kedua bola matanya. Sejak itu Ben menggunakan mata buatan. Ben mulai belajar untuk mengenali dan melokalisasi obyek dengan cara membuat suara dengan lidahnya (mirip suara jentikan jari), lalu mendengarkan gema yang dipantulkan dari obyek-obyek sekitarnya. Gema ini memandu Ben untuk mengenali obyek yang ada didepannya: gema yang lembut mengindikasikan benda metal, padat (seperti kayu), atau tajam (gelas). Menilai dari keras dan lemahnya gema itu, Ben juga belajar mengenali jarak.
Teknik ini disebut ‘echolocation’, dan banyak spesies, seperti kelelawar dan lumba-lumba, yang menggunakan teknik ini untuk bernavigasi. Bedanya, karena manusia hanya mampu menghasilkan suara dalam tempo lebih lambat dan frekuensi yang lebih rendah daripada hewan, manusia hanya mampu mengenali obyek-obyek yang lebih besar. Namun, tetap saja kemampuan navigasi Ben ini dinilai luar biasa. “Kemampuan Ben ini sungguh langka dan melampaui persepsi manusia,” kata Daniel Kish, psikolog dan pengajar ‘echomobility’ yang juga mengalami buta total sejak usia 2 tahun.
Satu hal penting yang membuat Ben mampu berkembang tanpa batas adalah peran ibunya, Aquanetta Gordon, yang tidak membedakan perlakuan diantara anak-anaknya. “Saya selalu bilang padanya, ‘Namamu adalah Benjamin Underwood, dan kamu bisa melakukan apa saja,’”demikian kata ibu 4 orang anak ini. “Dia bisa belajar menerbangkan pesawat kalau dia mau,” lanjutnya lagi.
Ben bermain basket bersama teman-temannya, berkuda, atau berdansa dengan gadis-gadis di sekolah. Dia mahir bermain PlayStation dengan cara mengingat suara yang dihasilkan oleh masing-masing karakter dan gerakan-gerakannya. “Orang selalu bertanya apakah saya kesepian,” kata Ben,”Tidak. Karena selalu ada orang disekitar saya, atau saya ngobrol dengan teman di telepon. Menjadi buta tidak jauh berbeda dengan orang normal.”
Aquanetta mengirim Ben ke sekolah biasa dimana staf pengajar profesional memberikan perhatian khusus padanya. Ben mulai belajar huruf Braille dan menggunakan tongkat. Tapi sejak usia 3 tahun, dia sudah belajar ‘echolocation’, dengan cara mengenali suara dari obyek-obyek yang dijatuhkannya dan belajar menemukannya kembali dengan mengenali gema dari obyek-obyek tersebut. Indera pendengarannya sungguh luar biasa. Kalli Carvalho, guru seni bahasa Ben mengisahkan,”Suatu hari saya membawa Ben mencari mobil saya yang diparkir di seberang jalan. Saya bilang,’Mobil saya adalah yang ketiga dari deretan ini.’ Saat kami melewati kendaraan pertama Ben berkata,’Ini kendaraan pertama. Sebuah truk.’ Melewati kendaraan kedua Ben berkata lagi,’Dan yang kedua ini adalah sebuah pickup. Dia bisa menyatakan bedanya!”
Saat berusia 6 tahun, Ben memutuskan tidak mau lagi menggunakan tongkat. Ben memilih untuk menajamkan kemampuan ‘echolocation’ nya. Sebagian ahli yang bekerja pada kasus Ben ini mengatakan Ben terlalu memaksa dirinya dan terlalu ambil resiko. Sebagian lain justru melihat kemampuan Ben ini akan memudahkannya dalam menghadapi kesulitan-kesulitan baru dan menaklukkan lingkungan barunya. James Ruben, dokter mata Ben berkata, “Dunia ini tidak akan berubah untuk Ben, dialah yang harus beradaptasi.”
Menjadi ‘pemberontak’ bukan berarti Ben tak punya rasa takut. “Satu hal yang paling saya takuti adalah air,” kata Ben. Juni lalu keluarganya membawanya ke Sea World di San Diego untuk bermain bersama lumba-lumba dan mendengar bagaimana lumba-lumba menggunakan ‘echolocation’. Dengan setengah badan terendam air dan Ben memasang telinganya saat Sandy, salah satu lumba-lumba datang mendekat. “Wow!”, serunya.”Klik-kliknya cepat sekali!” Bob McMains, supervisor program lumba-lumba berkata,”Ben memiliki talenta yang unik bersama lumba-lumba. Bila kelak dia berusia 18 tahun dia bisa bekerja disini, kapan saja.”
Dunia Ben Underwood mungkin saja gelap, tapi dia tak akan berhenti menemukan kejutan-kejutan menakjubkan lainnya. Kelak Ben bisa menjadi guru matematika, atau pemain skate board profesional, atau bahkan pilot. “Saya selalu katakan saya tidak buta,” kata Ben,”Saya hanya tidak bisa melihat.” (Kisah ini telah dimuat di Harian Online Kabar Indonesia edisi tanggal 3 Desember 2007. Silakan klik link berikut http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=1&dn=20071202232223)

Austin Loves Indonesia!

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket



Sabtu 2 minggu lalu (17 November 2007), Cathedral St. Mary di Austin, Texas tampak begitu meriah. Sejumlah muda mudi tampak sibuk menata bangku dan meja. Sebagian lainnya sibuk menata panggung sederhana dengan sound system. Sebagian lagi sibuk membuat dekorasi dan kostum. Ada apa gerangan?
Vidia Paramita, salah satu panitia menjelaskan bahwa ini adalah bazaar yang diadakan oleh ICC (Indonesian Catholic Community) Austin. Bagi yang belum tahu, ICC adalah wadah atau perkumpulan keluarga Katolik Indonesia di Austin, Texas. Sebagian anggota ICC -yang September lalu merayakan 5 tahun eksistensinya- adalah para mahasiswa di berbagai universitas di Austin, Texas.
Ide penyelenggaraan bazaar ini datang dari Aldo Sunaryo, sang ketua ICC. Dan setelah mendengar masukan-masukan dari anggota, akhirnya diputuskan bahwa pendapatan dari bazaar ini akan disalurkan ke pendidikan pra-sekolah di daerah Gunung Kidul, Jogjakarta. Imaculata, yang bertanggungjawab atas penyaluran dana, mengutarakan kesulitan yang dihadapi para guru di daerah terpencil sekitar Gunung Kidul. Lokasi yang sulit dijangkau dan kondisi sosial ekonomi penduduk sekitar yang umumnya adalah petani miskin menyebabkan para guru ini tidak mampu meningkatkan kualitas edukasinya.
Penghasilan guru-guru ini biasanya sekitar 200 ribu rupiah, tetapi terkadang tidak mendapatkan sampai 50% nya karena siswa siswa sekolahnya yang tidak mampu untuk membayar uang sekolah, ditambah dengan fakta bahwa pemerintah tidak memberikan bantuan subsidi untuk pendidikan pra-SD karena tidak dianggap “essensial”. Suatu anggapan yang salah, karena sudah terbukti dalam berbagai penelitian bahwa usia manusia yang paling berpotensi adalah dari 0 hinggga sekitar 5 tahun, dibawah usia SD.

Yang membuat kita bangga sekaligus terharu, meskipun minim fasilitas, guru-guru ini tetap memiliki dedikasi tinggi untuk mendidik para siswa. Mereka berkeyakinan dengan pendidikan dasar yang cukup, meski tidak bisa dibilang memadai, akan bisa mengentaskan generasi muda ini dari kemiskinan.
Ide ini kemudian digodog di komite ICC dan hasilnya, mereka sepakat untuk mengadakan bazaar sebagai cara penggalian dana.

Vidia mengatakan target yang ingin dicapai adalah $1,000 (sekitar Rp. 10.000.000). Dana ini akan digunakan untuk pemberdayaan para guru. “Bila dana yang tergalang lebih dari $1000, maka lebihnya akan kami donasikan sebagai beasiswa bagi siswa siswa yang ada disana. Seberapa besar per anak dan keputusan lainnya akan kami ambil dan komunikasikan setelah mengetahui berapa jumlah uang yang terkumpul.”, demikian Vidia mengatakan.

Dan ternyata bazaar berlangsung sukses dan menghebohkan. Dana yang terkumpul jauh melampaui harapan para panitia ICC. Hal ini tidak lepas dari partisipasi aktif organisasi-organisasi Indonesia lain, seperti Permias, Austin Cell, Keong Mas, IFGF, ICF, dan masih banyak lagi. Salah satu bentuk partisipasi mereka adalah dengan membuka stand di bazaar ini. Pengunjung yang datang pun benar-benar menikmati suguhan kesenian tari daerah, musik dan seni bela diri. Mereka seakan bernostalgia menikmati lezatnya berbagai makanan dan minuman tradisional khas Indonesia. “Kami sekeluarga datang kesini dan kerinduan kami akan kampung halaman terobati.”, demikian kata Widodo, salah satu pengunjung yang datang bersama istri dan anaknya.
Bazaar ditutup dengan tarian Poco-Poco yang diikuti oleh seluruh panitia dan sebagian pengunjung. Sebuah hasil karya para muda yang patut diacungi jempol. Seuntai kasih dari Austin untuk saudara-saudara kita yang kurang mampu di tanah air Indonesia. Salut untuk ICC Austin!
(Berita ini telah ditayangkan sebagai berita utama/headline di Harian Online Kabar Indonesia, tanggal 1 Desember 2007 dengan judul "Austin Cinta Indonesia". Silakan klik link berikut http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=1&dn=20071129215452)